Nurul Fikri Zakat Center

Sahabat Dhu'afa Mitra Muzaki

Ringkasan Materi Kajian Kitab Riyadhus Shalihin, Bab Larangan Ghibah.

Ringkasan Materi Kajian Kitab Riyadhus Shalihin,
Bab Larangan Ghibah.
Senin, 27 November 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Islam mengatur dengan sempurna hubungan manusia. Baik itu hubungan secara vertikal (Manusia dengan Penciptanya), maupun secara horizontal (Manusia dengan sesamanya). Beberapa prinsip dalam hubungan manusia dengan sesama manusia adalah :
1. Senantiasa berprasangka baik (Husnuzhan) dan menghindari prasangka buruk (su’uzhan);
2. Murah senyum dan menyebarkan salam;
3. Tidak mengumpat dan mencela lewat lisan maupun bahasa tubuh (QS. Al-Humazah : 1);
4. Saat bertiga, tidak boleh dua orang berbisik-bisik tanpa melibatkan yang satunya.
5. Tidak membicarakan keburukan orang lain (ghibah)
Di antara dalil yang berkaitan dengan bab haramnya ghibah adalah:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Tahukah kamu apa itu ghibah?” Sahabat menjawab: “Allaah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Kamu menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang dia benci.” Beliau ditanya: “Bagaimana kalau memang saudaraku melakukan apa yang kukatakan?” Beliau menjawab: “Kalau dia memang melakukan seperti apa yang kamu katakan, berarti kamu telah meng-ghibah-inya. Sebaliknya, kalau dia tidak melakukan apa yang kamu katakan, maka kamu telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)
Lalu, apakah ada ghibah yang diperbolehkan ?
Ketika membahas bab ghibah yang diperbolehkan, Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
“Ketahuilah bahwa ghibah terkadang dibolehkan apabila mempunyai tujuan yang dibenarkan oleh syari’at, yakni sesuatu yang tidak dapat dicapai selain dengan cara ghibah tersebut. Ada 6 sebab yang membolehkan ghibah :
1. Pengaduan kezhaliman. Seorang yang dizhalimi boleh mengadukan perkaranya kepada penguasa, hakim, atau pihak lain yang berwenang. Dengan begitu, mungkin ia dapat menyadarkan orang yang menzhaliminya dengan berkata: “Fulan telah menzhalimiku karena hal ini …”
2. Meminta pertolongan untuk mengubah kemungkaran guna mengembalikan orang yang bermaksiat kepada kebenaran.
3. Meminta fatwa kepada orang yang bisa memberikan fatwa.
4. Mengingatkan orang-orang Islam untuk mewaspadai kejahatan dan menasihati mereka.
5. Seseorang yang melakukan kejahatan/dosa secara terang-terangan.
6. Untuk keperluan identifikasi (pengenalan).

Demikian ringkasan Materi Kajian Riyadhus Shalihin edisi Akhir bulan November 2017.
Al Haqqu mirrabbik,
Fa laa takuunannaa minal mumtariin.
Semoga bermanfaat.

BACA JUGA :  Bersih Itu Sehat
Kirimkan halaman kami kepada teman-teman anda via facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *